Tips Menghindari Keracunan Makanan

29 Juni 2010 pukul 12:07 | Ditulis dalam Kesehatan, tips | 1 Komentar
Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Zat non-gizi yang terdapat dalam makanan ada yang bermanfaat bagi kesehatan dan ada juga yang merugikan kesehatan. Adapun zat non gizi yang berguna diantaranya adalah serat. Sedangkan zat non gizi yang merugikan misalnya antivitamin dan racum alami. Beberapa bahan pangan ternyata diketahui mengandung racun. Racun tersebut terdapat pada bahan makanan secara alami.

Beberapa contoh bahan makanan yang mengandung racun alami di antaranya:

Singkong
Racun alami pada daun dan umbi singkong adalah racun biru atau HCN (asam sianida). Penyebaran zat racun ini pada daun merata, sedang di dalam umbi terutama terdapat di dalam lapisan kulit sebelah dalam. Asam sianida akan menjadi aktif melalui suatu reaksi yang terjadi apabila daun atau umbi singkong itu terluka.
Semua jenis singkong mengandung HCN, hanya kadarnya berlainan. Singkong yang digoreng lebih besar kemungkinannya menjadi penyebab keracunan makanan. Hal ini disebabkan HCN tidak larut dalam minyak. Namun demikian, sebagian bahan beracun ini dapat menguap karena suhu minyak goreng yang tinggi.
Singkong juga mengandung racun linamarin dan lotaustralin, yang keduanya termasuk golongan glikosida sianogenik. Linamarin terdapat pada semua bagian tanaman, terutama terakumulasi pada akar dan daun. Singkong dibedakan atas dua tipe, yaitu pahit dan manis. Singkong tipe pahit mengandung kadar racun yang lebih tinggi daripada tipe manis. Jika singkong mentah atau yang dimasak kurang sempurna dikonsumsi maka racun tersebut akan berubah menjadi senyawa kimia yang dapat mengganggu kesehatan. Gejala keracunan sianida, antara lain penyempitan saluran nafas, mual, muntah, sakit kepala, bahkan pada kasus berat dapat menimbulkan kematian. Untuk mencegah keracunan singkong, sebelum dikonsumsi sebaiknya singkong dicuci untuk menghilangkan tanah yang menempel, dikupas lalu direndam dalam air bersih yang hangat selama beberapa hari, dicuci lalu dimasak sempurna baik dibakar atau direbus.
Singkong tipe manis hanya memerlukan pengupasan dan pemasakan untuk mengurangi kadar sianida ke tingkat non toksik. Singkong yang biasa dijual di pasar adalah singkong tipe manis.
Ada lagi yang disebut singkong karet. Singkong ini mengandung cyanogenik glycoside yang akan diubah menjadi asam sianida oleh enzim yang disebut linamarase. Hal ini terjadi ketika dinding sel tanaman ini rusak, terutama pada saat dimakan. Oleh karena itulah singkong karet ini jika dimakan secara tidak hati-hati akan membawa banyak masalah. Menangani singkong ini harus hati-hati dan akan mematikan jika dikonsumsi mentah.

Kentang
Racun alami yang dikandung kentang termasuk dalam golongan glikoalkaloid dengan dua macam racun utama yaitu solanin dan chaconine. Biasanya racun yang dikandung oleh kentang berkadar rendah dan tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi manusia. Meskipun demikian, kentang yang berwarna hijau, bertunas dan secara fisik telah rusak atau membusuk dapat menyebabkan glikoalkaloid dalam kadar yang tinggi. Racun tersebut terutama terdapat pada daerah yang berwarna hijau, kulit atau daerah di bawah kulit. Kadar glikoalkoid yang tinggi dapat menimbulkan rasa seperti terbakar di mulut, sakit perut, mual dan muntah. Sebaiknya kentang disimpan di tempat yang sejuk, gelap, dan kering serta dihindarkan dari paparan sinar matahari atau sinar lampu. Untuk mencegah terjadinya keracunan sebaiknya kentang dikupas kulitnya dan dimasak sebelum dikonsumsi.

Bayam
Sayuran yang satu ini banyak dikonsumsi karena kandungan gizi yang melimpah. Namun, jika tidak hati-hati bayam bisa meracuni akibat asam oksalat yang banyak terkandung dalam bayam. Asam oksalat yang terlalu besar dapat mengakibatkan defisiensi nutrient, terutama kalsium. Selain itu, asam oksalat juga merupakan asam kuat sehingga dapat mengiritasi saluran pencernaan, terutama lambung. Asam oksalat juga berperan dalam pembentukan batu ginjal. Untuk menghindari pengaruh buruk akibat asam oksalat sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung senyawa itu terlalu banyak.

Tomat
Bagi penggila sambal, tomat merupakan sayuran yang paling banyak dikonsumsi. Namun, hati-hati terhadap tomat hijau yang memiliki racun alami jenis glikoalkaloid yang dapat menimbulkan perasaan mual dan nyeri perut. Racun itu menyebabkan tomat hijau berasa pahit saat dikonsumsi. Untuk mencegah terjadinya keracunan, sebaiknya hindari konsumsi tomat hijau dan jangan pernah mengkonsumsi daun dan batang tanaman tomat.

Seledri
Seledri, tanaman sayuran ini mengandung senyawa psoralen yang termasuk racun golongan kumarin. Senyawa itu bisa menimbulkan reaksi sensitivitas pada kulit jika terpapar matahari. Untuk menghindari efek toksik psoralen, sebaiknya hindari terlalu banyak mengkonsumsi seledri mentah. Lebih aman jika seledri dimasak sebelum dikonsumsi karena psoralen dapat terurai melalui proses pemasakan.

Rebung
Rebung atau pucuk bambu. Racun alami dalam rebung masuk dalam golongan glikosida sianogenik. Untuk mencegah keracunan, sebaiknya pucuk bambu yang akan dimasak terlebih dahulu dibuang daun terluarnya, diiris tipis lalu direbus dalam air mendidih dengan penambahan sedikit garam selama 9-10 menit. Gejala keracunannya mirip dengan gejala keracunan singkong, antara lain penyempitan saluran nafas, mual, muntah dan sakit kepala.

Ackee
Buah ackee ini adalah buah khas dan menjadi salah satu ciri khas Jamaika, walaupun ternyata tanaman ini tidak berasal dari kepulauan ini. Pada 1780, tanaman ini diimpor dari Afrika Barat. Buah ini kaya akan asam lemak, vitamin A, seng dan protein nabati. Ackee ini adalah bahan penting bagi banyak masakan khas Karibia.
Namun, bukan berarti kita bebas makan buah ini. Buah yang belum matang mengandung racun yang akan menyebabkan muntah, kejang dan bahkan kekurangan zat gula yang sering berakibat fatal. Bahkan setelah matang, hanya bagian yang berwarna kuning dan lembut saja yang bisa dimakan. Kulit luar yang berwarna kemerahan dan biji buah ini akan menyebabkan kematian jika tidak sengaja terkonsumsi.

Zucchini
Bahan pangan lain yang patut mendapat perhatian adalah zucchini (semacam ketimun) yang mulai banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Racunnya menyebabkan zucchini berasa pahit. Namun, zucchini yang telah dibudidayakan jarang ada yang berasa pahit. Gejala keracunan zucchini misalnya muntah, kram perut, diare dan pingsan. Sebaiknya hindari mengkonsumsi zucchini yang berbau tajam dan berasa pahit.

Apel
Ternyata buah ini berbahaya, tapi untungnya hanya bagian biji saja. Buah ini ternyata menyimpan banyak bahaya dalam biji kecilnya. Para ilmuwan berhasil menemukan bahwa biji apel mengandung cyanogenic glycoside, atau sianida. Jika kita tidak sengaja mengkonsumsi bijinya, bersiaplah untuk segera ke dokter. Memang belum pasti berapa banyak biji yang ‘harus’ ditelan supaya dapat mematikan, tapi setidaknya, begitu makan apel dan kita merasakan sakit perut, atau muntah-muntah, keringat berlebihan, segeralah ke dokter.
Buah lain yang mengandung racun yang sama pada bijinya misalnya aprikot, pir, plum, ceri dan peach. Walaupun bijinya mengandung racun, daging buahnya tidak beracun. Jika terkunyah, biji buah yang mengandung hidrogen sianida yang bersifat racun. Gejala keracunan mirip dengan gejala keracunan singkong dan pucuk bambu. Sebaiknya tidak dibiasakan mengkonsumsi biji dari buah-buahan tersebut. Bila anak-anak menelan sejumlah kecil saja biji buah-buah tersebut, maka dapat menimbulkan gejala keracunan dan pada sejumlah kasus dapat berakibat fatal.

Ikan Buntal
Penampilannya memang lucu, tapi ikan ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Ikan ini mengandung tetrodotoksin (TTX), racun kuat yang akan melumpuhkan otot dan akhirnya korban akan mati karena kehabisan nafas. Racun ini banyak terkandung di hati dan indung telur ikan ini, sehingga hanya chef dengan izin khusus yang berhak menyajikan ikan ini.
Di Jepang, ikan ini disebut fugu, dan keracunan fugu hanya bisa ditangani oleh dokter dengan berusaha mempertahankan sistem pernapasan dan peredaran darah sampai efek racun ini menghilang dengan sendirinya.

Ular
Sup ular panas memang sangat mengundang selera, dan seperti kalajengking, tarantula atau laba-laba lain, racun dari beberapa hewan berbahaya ini dengan mudah menjadi netral jika daging dari hewan ini dimasak matang. Jadi selama kita tidak memakannya mentah, kita selamat. Tapi di negara kita, minum darah ular mentah yang dicampur dengan empedu mungkin adalah bukti kejantanan. Banyak orang percaya bahwa darah ular akan membawa kekuatan, jadi jika anda termasuk penggemar darah ular, atau makan bagian dari ular yang dikonsumsi mentah, sebaiknya berhati-hati.

TIPS MENGHINDARI KERACUNAN
Sebanyak 30% penyakit yang bersumber pada makanan disebabkan makanan tidak dipilih, disimpan, atau diolah dengan baik. Akibatnya, dapat bermacam-macam, seperti kejang perut, muntah, dan diare. Walaupun demikian, sebagian besar penyakit yang bersumber dari makanan yang rusak, tidak mematikan dan tidak menyebabkan sakit yang lama. Namun, dapat berakibat fatal pada usia sangat tua atau sangat muda (bayi atau balita).

Dari semua bahan makanan tersebut, yang paling banyak menimbulkan resiko terkontaminasi oleh bakteri adalah daging unggas, ayam, dan telur. Lalu, bagaimana agar kita dapat terhindar dari makhluk-makhluk kecil pengganggu itu?
Pada saat belanja di pasar atau swalayan, ambillah dahulu belanjaan selain makanan. Kemudian, ambil bahan makanan yang dikemas atau kalengan, dan yang terakhir baru makanan segar seperti daging, sayur, dan telur. Periksalah bahan makan kalengan, jangan mengambil jika kemasan terlihat rusak, menggelembung, atau penyok. Jangan sekali-kali membeli makanan kalengan yang sudah kadaluarsa. Jangan minum susu dan makan telur atau ikan mentah, apalagi jika menderita sakit atau mempunyai kelainan pada sistem imunitas tubuh.

Sebelum membeli telur, periksa benar-benar kesegarannya dan apakah betul-betul tidak retak atau bocor. Jika membeli makanan jadi, pilihlah yang dijual pada tempat yang terjaga kebersihannya. Keracunan karena kerang dan makanan laut lain sering kita dengar, jadi perlu ekstra hati-hati dalam memilih.

Bila perjalanan kita lebih dari satu jam setelah belanja makanan segar, sedapatnya taruh daging dan makanan yang mudah rusak dalam satu wadah yang berisi es. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penyimpanan makanan dalam lemari es. Segera simpan daging, sayur, susu, telur, dan bahan makanan segar lain ke dalam lemari es. Buanglah makanan yang sudah disimpan terlalu lama. Seringlah periksa apakah lemari es bekerja baik pada temperatur yang sesuai. Periksalah dan jangan biarkan air daging mentah menetes dan mengenai makanan lain.

Simpanlah telur di tempat yang dalam, jangan pada sisi pintu. Jangan biarkan makanan menumpuk, seringlah memilih makanan di dalam, dan buang segera jika sudah ada tanda-tanda rusak atau berjamur.

Jangan menyimpan makanan di bawah tempat cuci piring atau dekat bahan-bahan pembersih alat rumah tangga. Jangan biarkan makanan hangat atau dingin pada suhu kamar terlalu lama. Jika ingin makan telur setengah matang, rebuslah telur sampai kuning telur agak keras dan putih telur keras.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wah makasi byk nih buat infonya… n_n


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: